Home Home Featured [FOCUS] Pasca Kematian Jonghyun, Aaron Yan Buka Suara tentang Depresi

[FOCUS] Pasca Kematian Jonghyun, Aaron Yan Buka Suara tentang Depresi

5 min read
0
0
1,248

Personil grup idola Korea Selatan, Kim Jonghyun, ditemukan tidak sadarkan diri di apartemennya di Seoul. Meskipun sempat dibawa ke rumah sakit, nyawanya tidak tertolong. Jonghyun dinyatakan meninggal dunia pada tanggal 18 Desember 2017.

Penyanyi-penulis lagu berusia 27 tahun itu dikabarkan mengalami depresi dan berjuang mengatasi popularitas nya yang semakin berkembang. Meski keluarga tidak menginginkan autopsi, kematian Jonghyun diduga karena menghirup asap beracun.

Kepergian Jonghyun yang mendadak membuat selebriti lain berani membuka suara tentang depresi yang pernah mereka alami, salah satunya aktor dan penyanyi Taiwan Aaron Yan.

Debut di usia 19 tahun, Aaron bergabung dengan Wu Chun, Jiro Wang dan Calvin Chen dalam grup idola Fahrenheit. Popularitasnya meroketkan nama setiap personil. Meskipun kariernya sukses, Aaron pernah berjuang mengalahkan depresi di usia remaja.

(Foto : Weibo/Aaron Yan)

Bantuan Tidak Dianggap

Sebagai usaha untuk membantu mereka yang membutuhkan, Aaron membuka dirinya.

“Di awal usia 20-an, saya memiliki banyak keraguan terhadap diri sendiri. Saat itu, seperti zombie, pikiranku dipenuhi pikiran negatif. Saya meminta bantuan kepada sahabat terdekatku, namun dia langsung menganggapku orang yang bermasalah dan tidak mampu mengontrol emosi.”

“Tanpa banyak berpikir, mereka merekomendasikan seorang dokter. Saya masih muda dan berpikir orang-orang seusiaku juga mengalami hal sama yang saya alami. Ketika tiba di rumah sakit, saya sadar bukan konselor atau psikiater yang saya jumpai. Malahan saya menjalani sesi tanya-jawab yang tidak ada hubungannya dengan masalah psikologis.”

“Saya tahu… Saya mengerti… Saya telah berbicara dengan senior mu tentang ini… Saya mengerti jelas apa yang sedang kamu alami… Sebagai remaja yang barus memasuki dunia orang dewasa, memang dibutuhkan keberanian untuk membicarakan masalah mental.”

“Dalam keadaan seperti ini, keberanianku berbicara hilang total. Sejak awal hingga akhir, saya tidak pernah diberi kesempatan untuk menyatakan perasaanku. Sesi tersebut berakhir dengan cepat, menyisakan seorang Aaron Yan yang kebingungan.”

Berjuang untuk Hidup

Dia melanjutkan lagi, “Dari pengalaman pribadiku, saya mengerti perasaan tidak berdaya itu. Setiap hari, Anda dihadapkan dengan pilihan hidup atau tidak. Sebenarnya, saya bisa menutup mata dan membiarkan tubuhku tenggelam—dan semua akan berakhir.”

“Untungnya, dengan kemauan keras, saya berhasil mengalahkan depresi tanpa obat-obatan. Sepanjang perjalanan, saya berterima kasih kepada teman, keluarga dan kekasihku yang sabar menghadapiku. Saya memanjat keluar dari lobang yang dalam dan gelap. Saya termasuk beruntung jika dibandingkan dengan orang lain. Mungkin saja kemauanku lebih kuat dibandingkan orang lain. Atau mungkin, saya hanya beruntung.”

“Tapi berapa banyak orang di luar sana yang sedang berjuang dalam hidup? Dari orang-orang ini, berapa yang beruntung sepertiku? Saya membagikan pengalaman ini karena saya telah mengenal perasaan tak berdaya itu. Saya lebih menyadari detil kecil dalam emosi orang. Mereka bisa saja meminta bantuan, menunggu Anda dan saya untuk memperhatikan. Kontak mata sederhana, sapaan dan senyuman kecil, mungkin bisa membantu mereka melewati hari ini.”

(Foto : Weibo/Aaron Yan)

Load More Related Articles
Load More By DS
Load More In Home Featured

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

[FOCUS] Wilber Pan Jatuh Sakit Lagi

Terlalu banyak bekerja mungkin membuat orang terlena dan melupakan kesehatan tubuh mereka.…